HAPPY HEROES DAY, KENALI 4 ULASAN MAKNA PERJUANGAN PERTEMPURAN 10 NOVEMBER 1945

Oleh : Nikmahtin

“Merdeka Ataoe Mati” !!! Selamat Hari Pahlawan Sobat semua …….

Pada hari ini (10/11), 72 tahun Indonesia memperingati Gelora Perjuangan Arek-arek Surobayo melawan kolonialisme Inggris pada 10 November 1945 silam yang menjadi awal berkobarnya pula semangat mempertahankan Kedaulatan NKRI diseluruh wilayah nusantara. Pada perspektif kali ini kita tentu kembali teringat pidato Ir. Soekarno, “Jangan sekali – kali Meninggalkan Sejarah” yang merupakan pidato terakhir beliau pada HUT Republik Indonesia tepatnya 17 Agustus 1966. Dalam pidato tersebut Bung Karno mengingatkan semua pihak dan generasi mendatang bahwasannya era perang bersenjata dan kolonialisme tatap muka memang telah berakhir namun generasi muda mendatang tidak patut hanya berbangga diri dan menjadi sosok yang bangga akan masa lalu namun lengah akan masa depan bangsanya sendiri.

Berikut adalah 4 ulasan makna nilai – nilai luhur Perjuangan Pahlawan pada Pertempuran 10 November 1945 yang bisa diteladani oleh Generasi Milenial saat ini :

1. Awali menyelesaikan masalah melalui Musyawarah terlebih dahulu

Seperti yang dilansir oleh Wikipedia bahwasannya sebelum memanasnya Pertempuran 10 November diawali dengan Insiden pengibaran bendera Belanda (Merah – Putih – Biru) di hotel Yamato, Surabaya. Pada saat itu Pihak Indonesia mengambil langkah bijak melakukan perundingan terlebih dahulu dengan diwakilkan oleh Residen Soedirman yang dikawal oleh Sidik dan Haryono datang menyelesaikan masalah tersebut dengan pihak Belanda yang diwakilkan oleh Ploegman. Namun berujung pihak Belanda yang mengawali dengan letusan tembak dan para pejuang kita barulah dengan tegas dan berani melakukan perlawanan untuk merobek Bendera warna biru diatas Hotel Yamato.

2.Cepatnya pengambilan keputusan berawal dari koordinasi yang cepat dengan pihak yang tepat

Tahukah sobat semua setiap tanggal 9 November di Surabaya dan sekitarnya pasti banyak tertera “Awas Surabaya Membara” hal ini merupakan kenangan pejuang kita pasca dikeluarkan Ultimatum dari pihak Inggris untuk menyerahkan persenjataan sampai tenggang waktu 10 November pukul 06.00 pagi dan tunduk kembali pada kolonialisme mereka. Generasi milenial waktu itu para pemimpin dan pejuang kita resmi menolak Ultimatum tersebut dan berani memilih perlawanan secara terbuka setelah mendapatkan koordinasi dan persetujuan dari Presiden Ir. Soekarno melalui Menteri Luar Negeri Ahmad Subardjo bahwasannya Kedaulatan dan Kemerdekaan Indonesia adalah Harga Mati bagi Indonesia yang tak dapat diganggu gugat pihak manapun.

3.Jangan berjuang untuk menang tapi berjuanglah untuk mempertahankan apa yang menjadi Hak kita

Sobat milenial para pejuang kita melakukan pertempuran selama 3 hari berturut – turut dengan tewasnya banyak warga sipil dari pihak Indonesia karena jumlah formasi dan persenjataan yang memang tidak seimbang dibandingkan pihak Inggris. Kekalahan Indonesiapun terjadi namun tahukah sobat semua bahwasannya meskipun kalah namun perlawanan rakyat Surabaya terus berlanjut sampai 3 minggu tiada henti meskipun hanya bermodal bambu runcing namun semangat perlawanan mereka tidak putus dengan keterbatasan tersebut. Kondisi inlah yang memicu perlawanan Rakyat Indonesia di wilayah luar Surabaya untuk berbondong – bondong melawan Inggris. Sobat semua jika pejuang kita berjuang hanya untuk menang tentu dulu saat kalah mereka memilih menyerah namun perlawanan mereka tidak terhenti kala itu malah semakin berkobar untuk tegakkan Kemerdekaan dan Kedaulatan Indonesia.

4.Berhasilnya peran Tokoh Utama pasti ada Rekan yang tak kalah hebat mengiringinya

Mengenang pertempuran 10 November 1945 tentu sobat milenial begitu akrab dengan sosok Bung Tomo, Pimpinan heroik Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) yang berhasil beretorika membakar semangat arek – arek Surabaya dikala itu melalui semboyannya yang terkenal, “Merdeka Ataoe Mati” !!! yang kita semua yakini sampai detik ini. Para sobat milenial dibalik kejayaan sang tokoh utama Bung Tomo patut kita teladani pula rekan pejuang lain yang tak kalah hebat mengiringinya. Seperti yang dilansir dari harian Surya dengan judul artikel “Tiga Tokoh Jadi Pemeran Utama Saat Pertempuran 10 November” yaitu HR Mohamad Mangoendiprodjo, Soengkono dan Moestopo. Ketiga tokoh pejuang tersebut tak kalah membakar semangat arek – arek Surabaya untuk berkobar melawan kolonialisme Inggris. Tokoh pejuang H.R Muhammad Mangoendiprodjo merupakan pimpinan TKR Divisi Jatim kala itu dan Soengkono merupakan Komandan BKR Surabaya, merekalah yang bergerak bersama Arek – arek Surabaya yang secara spontan menolak Ultimatum Inggris. Tokoh Moestopo lebih dikenal dengan ciri khas pemberontakannya yang radikal, berprofesi sebagai Dokter gigi yang menjabat Menteri Pertahanan ad Interim sekaligus Kepala BKR (Badan Keamanan Rakyat) Jatim. Mereka bertiga yang selama ini berperan dalam taktik pengamanan rakyat dan perlawanan terhadap bala tentara Inggris melalui jalur militer.

Para sobat milenial demikian sedikit ulasan mengenai nilai – nilai luhur yang dapat kita ambil dari peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, semoga bermanfaat. Terus gelorakan semangat perjuangan kepahlawanan dalam tiap jiwa kita dan Merdeka !!!.

Komentar