Pondok Gomang sebagai Situs Sejarah di Kecamatan Singgahan

Pondok Gomang

Dusun Gomang, Desa Laju Lor, Kecamatan Singgahan

     Pondok Gomang terletak di Dusun Gomang, Desa Laju Lor Kecamatan Singgahan. Pondok Gomang berdiri tahun 1977, tepatnya ahad wage Tanggal 26 Desember. Setiap tahunnya diperingati Hari Jadi Pondok Pesantren. Menurut nara sumber KH Noer Nasroh Hadiningrat pendiri serta pengasuh Pondok Pesantren Walisongo di Dusun Gomang Desa Laju Lor Kecamatan Singgahan. Dusun Gomang pada Zaman dahulu adalah hamparan hutan yang sangat lebat dan jalannya pun terjal berbatu, ketika zaman penjajahan dusun ini di gunakan sebagai tempat persembunyian perampok maupun begal. Masyarakat sekitar menamakan GOMANG (Gone Mamang), dengan arti aparat mau menangkap perampok itu memang/ragu karena letaknya lumayan tinggi dan jatinya lebat. Tetapi ada yang berfikir positif gomang artinya kanggo mangan.

       Adapun KH Nur Nasroh beliau seorang santri dari Kyai Sarbini, bahkan sebelumnya ada beberapa para Ngalim atau guru ngaji yang ditugaskan Kyai Sarbini : Rifai (Nganjuk), Muzamil (Mundrie Bangilan), Sapuan (Gembong Bangilan), Zuhadi (Padangan Bojonegoro), Azmatun (Lajo Lor Singgahan), Kakak Asmatun (Laju Lor Singgahan), Shobari, Abdur Rohim.

      Masyarakat Gomang dahulu beliau memiliki kepercayaan/aliran sapto darmo yaitu kepercayaan menyembah matahari dan sembahyang menghadap ke timur. Pegangan atau pitutur dari para sesepuh Sapto Dharmo, Gomang akan bisa terkenal jika jago lereng kuning soko kidul wetan (Pemuda lereng kuning dari selatan timur). Atau ada jago ireng galeh soko kidul kulon (Pemuda hitam galeh dari selatan barat).

       Pertama datang ke dusun tersebut, beliau mengawali syiar islam dengan mengajarkan baca tulis kepada warga. Setelah membantu membangun saluran air dan jalan, kemudian perlahan-lahan memasukkan ajaran islam didalamnya. Tahun 1977 KH Noer Nasroh nekat mendirikan Ponpes Walisongo dengan santri hanya berjumlah enam orang. Hari demi hari nama Ponpes Walisongo makin dikenal masyrakat. Hingga tahun 1994 tercatat ada 800 santri. Sampai tahun ini, saya kebingungan karena belum punya masjid. Bahkan sampai empat klai berpindah lokasi untuk sholat Jumat. Mulai dari menggunakan musola hingga memanfaatkan ruang pengajian,” kisah bapak enam ini. Dengan modal uang 750.000 saat itu, Kh Nur Nasroh dan santrinya berikhtiar mendirikan masjid. Tapi allhamdulillah semua berjalan dengan baik. Saya mendapat bantuan dari Pak Miftah yang saat itu menjabat Adm Perhutani dan Pak Sofyan sebagai Asper. Maka untuk mengenang nama kami bertiga diputuskan untuk digunakan sebagai nama masjid “An-Nur Nurul Miftahussofyan” hingga sekarang,” sambungnya.

      Semua bahan sudah disiapkan dari KH Nur Nasroh sendiri, Untuk tahap awal bahan yang paling siap untuk pembangunan masjid adalah kayu sebagai tiang utama masjid. Pasalnya untuk mendirikan kayu sebesar itu tentunya butuh cara dan tenaga lebih. Mendengar kabar rencana pendirian masjid unik, banyak warga dari daerah lain ingin melihat langsung. Termasuk bupati Tuban saat itu.

     Bangunan Masjid An-Nur Nurul Miftahussofyan berdiri kokoh di Dusun Gomang, Desa Laju Lor, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban. Tempat ibadah utama itu terbilang unik jika dibandingkan masjid pada umumnya. Sebab, saat dibangun tanggal 18 Agustus 1994 di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Songo Gomang, hanya bertumpu pada satu tiang besar dari kayu jati berdiameter 85 centimeter dan tinggi 27 meter. Lebih nyentrik lagi diujung atasnya dihiasi akar pohon jati.

    Semua pembungan kita lakukan sesuai ajaran Nabi Sulaiman, bahwa dalam pembangunan majid tidak diperkenankan mengeluarkan suara keras. Termasuk dalam pemasangan batu-batunya,” tegas sang Kiai. “Kalau Nabi Sulaiman Menyuruh burung hud-hud mengambil besi kuning guna memotong batu agar tidak bersuara, kita hanya bisa memasang satu persatu batubara dengan bacaan Ayat Kursi sambil berusaha tidak mengeluarkan suara sama sekali,” lanjutnya. Satu tiang utama masjid tersebut dibantu dengan delapan tiang kecil sebagai penyangga atap dipinggir masjid. Dalam peletakannya, delapan tiang tersebut ditata sedemikian rupa, sehingga saat dilihat dari berbagai sisi tampak jumlahnya sembila tiang. Menurut Kiai Nasroh, ini merupakan simbol perjuangan Wali Sembilan dalam menyebarkan agama islam ditanah Jawa. Selain itu, diatas atap masjid dibangun kubah aluminium atau semacamnya seperti umumnya digunakan di Indonesia. Tak Hanya Itu, semua yang ada di dalam masjid tersebut juga mengandung arti. Satu tiang tersebut merupakan petunjuk bahwa setiap yang masuk dalam masjid bisa mengingat Allah yang maha satu dengan kebesaran dan ketinggiannya. Sedangkan panjang tiang 27 meter merupakan sombol bahwa sholat diwahyukan kepada Rasulullah melalui Isro’Mi’roj pada 27 Rajab. Lebar Masjid 17 Meter bearti Al Quran yang diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan, Panjang masjid 40 meter bearti nabi menerima wahyu pertama pada usia 40 tahun sementara tiang tambahan kanan dan kiri yang berisi delapan tiang ditambah satu tiang uatam menunjukkan bahwa islam masuk di tanah Jawa atas prakarsa sembilan wali.

       Itulah cerita singkat tentang apa yang kita dapat dari hasil penelusuran berdirinya Pondok Pesantren Wali Songo beserta berdirinya Masjid An-Nur Nurul Miftahussofyan di Desa Gomang Kecamatan Singgahan atas prakarsa KH Nur Nasroh, Semoga apa yang kita tulis menambah wawasan pembaca.

Penulis : Fendik

Komentar